Senin, 27 Februari 2012

Peduli Lingkungan Hidup di Indonesia

Negara indonesia adalah negara yang AGRARIS (kalimat ini yang selalu saya dengar dan saya baca sejak SD hingga sekarang). Sebuah kebanggaan bagi kita yang merasa sebagai warga negara Indonesia karena kita mempunyai kekayaan baik Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia (meskipun tidak terjamin.. kecuali para blogger lho.. mereka pinter.) begitu melimpah dari tanah kita ini. Kita juga semakin dibanggakan karena kekayaan kita bukan hanya dapat digunakan sebagai mata pencaharian atau sumber kehidupan dan penghasilan, namun juga menjadi tempat tinggal yang nyaman dan aman secara ekologis.
Pernahkah terbesit akan rasa was-was, cemas, gelisah, dan perasaan buruk lainnya.
Kalimat yang dahulu diagung-agungkan kini berubah menjadi kalimat yang mengkhawatirkan. Yang dahulu disebut AGRARIS kini telah berubah menjadi TRAGIS yang kemudian MAMPIS
(saking mampusnya.. hehehehe
Eksploitasi yang berlebihan, pembabatan hutan liar, budaya membuang sampah sembarangan, dan hal-hal lainnya yang berjalan tanpa memperhatikan keberlanjutan sebuah system yang utuh dan menyeluruh dan akhirnya merusak bahkan bisa dibilang menghancurkan alam. Secara menyeluruh, hal ini dapat menimbulkan penderitaan, penyakit, bencana, hingga akhirnya kemiskinan masyarakat.

Banyak sekali hal ataupun kejadian yang dapat kita lihat dan akhirnya jelas dirasakan akan adanya sebuah kerugian. Hutan Kalimantan yang rusak sehingga mengganggu siklus maupun habitat dari beberapa spesies dan keanekaragama hayati, eksploitasi tambang yang berlebihan yang hanya menghasilkan rusaknya struktur tanah juga polusi, eksploitasi “air” (yang katanya milik Negara) yang digunakan untuk kepentingan segelintir orang demi keuntungan semata hingga petani ga bisa mengairi sawahnya.. Hiks..
belum lagi sampah yang membludak di tiap sungai (termasuk anda yang buang puntung rokok..hehehehehe), pemakaian AC, asap kendaraan… wah makin tambah panas saja dunia ini.

Akibat yang kemudian muncul, bukan hanya menjadi keprihatinan bersama yang cukup untuk direnungkan saja, namun juga menyangkut mentalitas masing-masing individu atau pribadi yang menunjukkan rendahnya kesadaran akan “peduli lingkungan hidup”.
Untuk itu perlu digerakkan upaya pemberdayaan lingkungan hidup dan pemantapan atau perubahan mentalitas tiap individu secara mendasar.
Perlu disadari bahwa…
“Semua makhluk dan ciptaanNya merupakan sebuah proses hidup yang saling berkesinambungan”.

Efisiensi BBM terhadap Lingkungan

DALAM naskah RAPBN tertera, subsidi BBM adalah pembayaran yang dilakukan pemerintah Indonesia kepada Pertamina dalam kondisi di mana pendapatan yang diperoleh pertamina dari jasanya menyediakan kebutuhan BBM di dalam negeri lebih rendah daripada biaya yang dikeluarkan untuk penyediaan BBM di dalam negeri.

Fakta yang nyata terjadi adalah, BBM merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui tapi jumlah konsumennya terus meningkat. Itulah yang menyebabkan harga minyak mentah (bahan dasar BBM) melambung. Fakta kedua, di tanah pusaka tercinta ini, ternyata bukan negara yang kaya akan minyak mentah. Meskipun Indonesia disebut sebagai negara pengekspor minyak bumi, tapi itu puluhan tahun yang lalu. Sebaliknya, saat ini Indonesia masih mengimpor minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri. Bahkan pasaran minyak mentah di dunia jauh di atas anggaran APBN yang ditetapkan.

Keputusan pun dibuat dengan mengeluarkan tiga pilihan. Pertama, pembatasan penggunaan BBM; kedua, menaikkan harga BBM dan mencabut subsidi BBM; serta ketiga, eksplorasi energi alternatif menggunakan gas sebagai subtitusi (pengganti) BBM.

Terlepas dari solusi yang sudah diajukan di atas, langkah nyata yang bisa dilakukan untuk menyikapi polemik subsidi BBM tersebut adalah pembenahan terhadap efektivitas dan efisiensi pola konsumsi BBM.

Frekuensi kendaraan bermotor dipastikan bertambah dari tahun ke tahun. Praktis, penggunaan BBM juga bertambah. Efektivitas peghematan BBM tidak ditemukan pada kenyataan tersebut. Di sisi lain, fasilitas dan infrastruktur yang berkaitan dengan jalan raya dan lalu lintas tidak bisa mengimbangi bertambahnya volume kendaraan tersebut.

Di sinilah letak relevansi penggunaan BBM dengan lingkungan. Apabila pemerintah cermat, maka penghematan BBM bisa dilakukan dengan membatasi kepemilikan kendaraan bermotor secara pribadi. Dengan demikian, bisa menghemat penggunaan BBM, kondisi jalan raya dan infrastruktur yang berkaitan dengan itu bisa diperhatikan lebih serius, dan memangkas angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) dan kemacetan. Dampak lainnya, berkurangnya polutan akibat kendaraan bermotor sehingga tercipta kondisi yang ramah lingkungan.

Data dan penelitian banyak membuktikan, subsidi BBM tidak tepat sasaran. Pengguna jenis premium banyak dari kalangan menengah ke atas yang seringkali dianjurkan menggunakan Pertamax. Selain dari faktor pengguna, kondisi kendaraan juga turut andil dalam pemborosan penggunaan BBM. Kendaraan yang beberapa kali turun mesin, atau kondisi mesin yang tidak lagi layak adalah penyebab pemborosan BBM. Mengenai hal itu, kesadaran masyarakat Indonesia juga masih kurang.

Penanggulangan mengenai dilema pemerintah mengenai subsidi BBM membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Kampanye cinta lingkungan bisa menjadi alternatif mengatasi hal ini. Kita bisa belajar dari China yang mengkampanyekan penggunaan sepeda sejak 2008. Pemerintah juga mampu merangkul pihak yang terkait untuk mengontrol mesin kendaraan layak pakai demi efektivitas dan efisiensi penggunaan BBM.

Sementara itu, riset dan pengembangan energi alternatif pengganti BBM menunggu untuk segera dikerjakan. Alasan apa pun yang terlontar, BBM adalah sumber daya alam yang penting untuk dihemat.