Negara indonesia adalah negara yang AGRARIS (kalimat ini yang selalu saya dengar dan saya baca sejak SD hingga sekarang). Sebuah kebanggaan bagi kita yang merasa sebagai warga negara Indonesia karena kita mempunyai kekayaan baik Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia (meskipun tidak terjamin.. kecuali para blogger lho.. mereka pinter.) begitu melimpah dari tanah kita ini. Kita juga semakin dibanggakan karena kekayaan kita bukan hanya dapat digunakan sebagai mata pencaharian atau sumber kehidupan dan penghasilan, namun juga menjadi tempat tinggal yang nyaman dan aman secara ekologis.
Kalimat yang dahulu diagung-agungkan kini berubah menjadi kalimat yang mengkhawatirkan. Yang dahulu disebut AGRARIS kini telah berubah menjadi TRAGIS yang kemudian MAMPIS
(saking mampusnya.. hehehehe
Eksploitasi yang berlebihan, pembabatan hutan liar, budaya membuang sampah sembarangan, dan hal-hal lainnya yang berjalan tanpa memperhatikan keberlanjutan sebuah system yang utuh dan menyeluruh dan akhirnya merusak bahkan bisa dibilang menghancurkan alam. Secara menyeluruh, hal ini dapat menimbulkan penderitaan, penyakit, bencana, hingga akhirnya kemiskinan masyarakat.
Banyak sekali hal ataupun kejadian yang dapat kita lihat dan akhirnya jelas dirasakan akan adanya sebuah kerugian. Hutan Kalimantan yang rusak sehingga mengganggu siklus maupun habitat dari beberapa spesies dan keanekaragama hayati, eksploitasi tambang yang berlebihan yang hanya menghasilkan rusaknya struktur tanah juga polusi, eksploitasi “air” (yang katanya milik Negara) yang digunakan untuk kepentingan segelintir orang demi keuntungan semata hingga petani ga bisa mengairi sawahnya.. Hiks..
belum lagi sampah yang membludak di tiap sungai (termasuk anda yang buang puntung rokok..hehehehehe), pemakaian AC, asap kendaraan… wah makin tambah panas saja dunia ini.
Akibat yang kemudian muncul, bukan hanya menjadi keprihatinan bersama yang cukup untuk direnungkan saja, namun juga menyangkut mentalitas masing-masing individu atau pribadi yang menunjukkan rendahnya kesadaran akan “peduli lingkungan hidup”.
Untuk itu perlu digerakkan upaya pemberdayaan lingkungan hidup dan pemantapan atau perubahan mentalitas tiap individu secara mendasar.
Perlu disadari bahwa…
“Semua makhluk dan ciptaanNya merupakan sebuah proses hidup yang saling berkesinambungan”.